Ketika mendengar kata "bullying", gambaran apa yang langsung muncul di kepala? Mungkin adegan klasik di film, di mana seorang anak besar menyandera tas si kecil di toilet sekolah, atau sekelompok remaja mengejek penampilan temannya di koridor. Tapi, realitasnya jauh lebih kompleks dan seringkali lebih tersamar. Perundungan bukan cuma soal fisik atau kata-kata kasar yang terang-terangan. Ia punya banyak wajah, dan beberapa di antaranya bekerja dalam senyap, meninggalkan luka yang sama dalamnya, bahkan lebih. Memahami berbagai jenis jenis bullying adalah langkah pertama yang krusial untuk bisa mengenalinya, baik sebagai korban, saksi, orang tua, atau pendidik. Karena, bagaimana kita bisa melawan sesuatu yang kita tidak sepenuhnya paham?
Dari yang Kasat Mata hingga yang Terselubung: Spektrum Perilaku Merendahkan
Bullying pada intinya adalah penyalahgunaan kekuatan atau pengaruh yang dilakukan secara berulang, dengan maksud menyakiti seseorang atau sekelompok orang, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Kuncinya di sini adalah berulang dan ketidakseimbangan kekuatan. Bukan sekadar konflik sesama teman yang sekali terjadi. Mari kita uraikan satu per satu jenis-jenisnya, karena mengenali pola adalah senjata terbaik.
Bullying Fisik: Bentuk Paling Nyata dan Mudah Dikenali
Ini adalah jenis yang paling tradisional dan langsung teridentifikasi. Melibatkan kontak fisik dengan tujuan melukai atau mendominasi korban. Meski terlihat jelas, seringkali korban takut untuk melapor karena ancaman yang lebih besar. Yang termasuk dalam kategori ini:
- Memukul, menendang, menampar: Tindakan agresi fisik langsung.
- Mendorong, menjegal, atau mengunci seseorang: Sering dianggap "bercanda" tetapi memiliki maksud merendahkan.
- Merusak atau mengambil paksa barang milik orang lain: Merampas tas, merusak buku, atau mengambil uang jajan.
- Memberikan isyarat tubuh yang mengancam atau kasar: Seperti meninju udara ke arah korban atau mengangkat tinju.
Dampaknya jelas: luka fisik, rasa sakit, dan trauma yang mendalam. Namun, seringkali ini hanya puncak gunung es dari pola perundungan yang lebih sistematis.
Bullying Verbal: Luka yang Diukir dengan Kata-Kata
Jika bullying fisik menyakiti tubuh, bullying verbal menghancurkan mental. Kata-kata punya kekuatan yang luar biasa untuk mengikis harga diri seseorang secara perlahan-lahan. Jenis ini sangat umum dan bisa terjadi di mana saja, dari ruang kelas hingga grup chat. Bentuknya antara lain:
- Mengejek dan memberi nama panggilan yang menghina (name-calling): Terkait penampilan fisik, kemampuan, ras, suku, agama, orientasi seksual, atau latar belakang keluarga.
- Meneriaki atau membentak: Intimidasi melalui volume suara dan nada bicara yang mengancam.
- Mengolok-olok (mocking) dan meniru dengan maksud mengejek: Menirukan cara bicara, gaya berjalan, atau kekurangan fisik seseorang.
- Mengucapkan kata-kata kasar dan makian.
- Memberikan komentar seksual yang tidak diinginkan (sexual remarks).
Yang berbahaya dari bullying verbal adalah seringkali pelaku "bersembunyi" di balik kalimat, "Cuma bercanda, kok, rocknoldies.com sensitif amat sih!" Ini meminimalkan pengalaman korban dan membuat mereka ragu untuk protes.
Era Digital, Luka Baru: Cyberbullying
Ini adalah evolusi dari jenis jenis bullying tradisional yang menemukan lahan subur di dunia digital. Dampaknya bisa lebih parah karena jangkauannya luas, bersifat permanen (digital footprint), dan pelaku bisa bersembunyi di balik anonimitas. Korban merasa tidak ada tempat yang aman, karena ancaman bisa masuk ke genggaman tangan mereka kapan saja. Bentuk cyberbullying sangat beragam:
Flaming dan Harassment
Mengirimkan pesan-pesan kasar, ofensif, dan penuh amarah secara online, baik di kolom komentar, direct message, atau email. Dilakukan berulang-ulang untuk mengganggu dan membuat korban merasa tidak nyaman.
Doxing
Membongkar dan menyebarkan informasi pribadi korban (seperti alamat rumah, nomor telepon, data keluarga) ke publik tanpa izin, dengan tujuan mengundang orang lain untuk mengganggu atau bahkan mengancam keselamatan korban.
Impersonation
Membuat akun palsu atas nama korban, lalu menggunakannya untuk memposting konten yang memalukan, kasar, atau merusak reputasi korban di mata teman-temannya.
Exclusion
Sengaja mengeluarkan seseorang dari grup online, percakapan, atau game multiplayer. Di dunia yang terhubung, merasa dikuculkan secara digital bisa sama sakitnya dengan dikucilkan di dunia nyata.
Cyberstalking
Ini sudah level yang mengkhawatirkan. Melibatkan penguntitan dan pengiriman pesan ancaman yang berulang melalui platform digital, yang bisa berpotensi berkembang menjadi ancaman fisik.
Bullying Relasional: Seni Menghancurkan Pertemanan secara Diam-diam
Ini mungkin jenis yang paling licik dan sulit dideteksi oleh orang dewasa. Fokusnya bukan pada menyakiti fisik atau melontarkan kata-kata kasar langsung, tetapi merusak reputasi sosial dan hubungan pertemanan korban. Tujuannya adalah pengucilan sosial. Karena sifatnya yang terselubung, korban sering bingung menyebutkan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya merasa dikucilkan, dijauhi, dan tidak tahu alasannya.
Apa saja sih ciri-ciri bullying relasional itu?
- Menyebarkan gosip dan rumor: Menciptakan cerita negatif tentang korban untuk merusak citranya.
- Mengajak orang lain untuk membenci atau mengucilkan seseorang: "Jangan main sama dia, dia aneh," atau "Kita nggak ngajak dia ya besok, dia ngeselin."
- Mempermalukan seseorang di depan umum: Bisa dengan cara yang terlihat seperti "candaan".
- Mengabaikan atau memberikan perlakuan diam (silent treatment) dengan sengaja.
- Mengancam akan mengucilkan seseorang jika tidak menuruti keinginan pelaku.
Dampaknya sangat dalam pada kesehatan mental remaja yang sedang membangun identitas sosialnya. Rasa dikhianati, kesepian, dan harga diri yang rendah adalah konsekuensi utamanya.
Bullying Seksual: Melampaui Batas yang Tidak Nyaman
Jenis ini sering kali tumpang tindih dengan bentuk bullying lainnya, tetapi memiliki karakter khusus terkait seksualitas. Tidak hanya terjadi pada remaja, tetapi juga di lingkungan kerja. Perilakunya mencakup:
- Komentar, lelucon, atau isyarat yang bersifat seksual dan tidak diinginkan.
- Menyentuh, mencubit, atau melakukan kontak fisik yang tidak pantas.
- Menyebarkan rumor atau gosip tentang kehidupan seksual seseorang.
- Memposting atau membagikan konten seksual yang memalukan tentang seseorang (termasuk revenge porn).
- Memaksa seseorang untuk melakukan hal-hal yang bersifat seksual.
Bullying seksual menciptakan lingkungan yang menakutkan, memalukan, dan merendahkan martabat korban. Penting untuk membedakannya dari pelecehan seksual yang sudah masuk ranah hukum.
Lalu, Bagaimana Kita Bisa Bergerak?
Setelah memahami kompleksitas jenis jenis bullying, pertanyaan besarnya adalah: apa yang bisa kita lakukan? Kesadaran adalah langkah pertama. Selanjutnya, beberapa hal ini bisa diterapkan:
Untuk Orang Tua dan Pendidik
Bangun komunikasi yang terbuka dan tanpa penghakiman. Anak atau siswa perlu merasa aman untuk bercerita. Perhatikan perubahan perilaku mendadak, seperti murung, enggan ke sekolah, nilai turun drastis, atau kehilangan minat pada aktivitas yang biasa disukai. Jangan anggap remeh keluhan mereka. Edukasi tentang bentuk-bentuk bullying, termasuk yang relasional dan cyber, sejak dini. Ajarkan empati dan keberanian untuk menjadi upstander (orang yang membela), bukan sekadar bystander (penonton).
Untuk Teman Sebaya
Jika kamu melihat sesuatu, katakan sesuatu. Tidak harus dengan konfrontasi langsung ke pelaku, yang bisa berisiko. Pendekatan kepada korban, menawarkan dukungan, atau melaporkan kepada orang dewasa yang dipercaya adalah tindakan yang sangat berarti. Jangan ikut menyebarkan gosip atau konten yang merendahkan orang lain, sekecil apapun itu. Kekuatan pertemanan yang positif bisa menjadi tameng terbaik melawan pengucilan sosial.
Untuk Diri Sendiri (Jika Merasa Menjadi Korban)
Ingat, ini bukan salahmu. Ketidakseimbangan kekuatan itu nyata. Cobalah untuk berbicara kepada seseorang yang kamu percayai—orang tua, guru, konselor, atau teman dekat. Dokumentasikan setiap kejadian, terutama untuk cyberbullying (screenshot, simpan pesan). Blokir akun-akun pelaku di media sosial. Dan yang paling penting, jaga kesehatan mentalmu. Cari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor jika beban terasa terlalu berat. Kamu tidak perlu melalui ini sendirian.
Menciptakan Lingkungan yang Lebih Aman Dimulai dari Pemahaman
Bullying adalah masalah sistemik yang membutuhkan solusi dari semua pihak. Dengan mengenali setiap varian dari jenis jenis bullying, kita jadi punya kosa kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikan apa yang terjadi. Kita jadi bisa membedakan antara "konflik" dan "perundungan". Kita juga jadi lebih peka terhadap luka yang tidak terlihat. Pada akhirnya, tujuan kita bersama adalah menciptakan ruang—baik di sekolah, di rumah, maupun di dunia online—di mana setiap orang bisa merasa dihargai, aman, dan tumbuh tanpa rasa takut. Itu dimulai dari percakapan hari ini, dari pemahaman yang lebih mendalam, dan dari komitmen untuk tidak lagi menutup mata.