Bukan Sekadar Rayuan: Memahami Perasaan yang Tersembunyi di Balik Lagu “Can I Be Him”

Kalau kamu pernah merasa deg-degan, harap-harap cemas, dan pengen banget jadi seseorang yang lain—hanya karena orang yang kamu suka sedang bersama orang lain—maka lagu "Can I Be Him" mungkin pernah jadi soundtrack-mu. Lagu yang dibawakan dengan vokal penuh emosi oleh James Arthur ini bukan cuma lagu cengeng biasa. Di balik melodi yang melankolis dan lirik yang sederhana, tersimpan lapisan makna yang dalam tentang cinta yang tak terbalas, rasa tak cukup, dan keberanian untuk mengakui kelemahan. Yuk, kita bahas lebih dalam apa sebenarnya makna lagu "Can I Be Him" dan kenapa lagu ini bisa nyangkut banget di hati banyak pendengar, terutama yang pernah merasakan sakitnya "what if".

Dari Siapa dan Untuk Siapa? Konteks di Balik Lagu "Can I Be Him"

Sebelum menyelam ke lirik, penting untuk tahu asal-usulnya. "Can I Be Him" adalah lagu dari James Arthur, penyanyi asal Inggris yang meledak lewat ajang *The X Factor*. Lagu ini ada di album debutnya yang bertajuk *James Arthur* (2013). Meski bukan single utama, popularitas lagu ini justru melambung secara organik, terutama lewat platform seperti YouTube. Banyak yang mengira lagu ini tentang mantan atau gebetan, tapi James Arthur sendiri pernah mengisyaratkan bahwa inspirasi lagu ini lebih universal: tentang perasaan ingin menjadi seseorang yang lebih baik, seseorang yang "layak" untuk dicintai oleh orang yang ia pandang sempurna.

Gaya musiknya yang akustik-dominan dengan sentuhan soul dan R&B ringan membuat nuansanya intim. Seolah-olah James Arthur sedang berbisik tepat di telinga kita, menceritakan rahasia terdalaminya. Inilah yang bikin lagu ini terasa personal bagi siapa saja yang mendengarkannya.

Membongkar Lirik: Setiap Baris adalah Cerita Rasa Tak Aman

Mari kita kupas lirik "Can I Be Him" bagian per bagian. Lagu ini adalah sebuah monolog, sebuah permohonan, dan sekaligus pengakuan.

Verse 1: Memulai dengan Pengamatan yang Menyakitkan

Lagu dibuka dengan, "She lays her head on her pillow / Whispering, 'Is it too late?' / 'Cause she's already someone's girl". Dari awal, kita langsung dihadapkan pada konflik utama: si perempuan sudah punya pasangan. Narator (atau kita bisa sebut sebagai si "aku" dalam lagu) mengamati dari jauh. Ia melihat keraguan si perempuan ("Is it too late?"), yang mungkin memberi secercah harapan, tapi langsung ditampar realita bahwa statusnya sudah "someone's girl". Ini menggambarkan posisi si "aku" yang berada di zona abu-abu—bukan pacar, tapi juga bukan sekadar teman biasa. Ia ada di pinggir, menyaksikan kebahagiaan yang bukan miliknya.

Chorus: Inti dari Pertanyaan yang Menggelisahkan

Nah, di bagian chorus inilah jantung dari lagu berdetak. "Can I be him? / Who holds you tight when you're feeling loved? / Can I be him? / The one who treats you right, baby". Pertanyaan "Can I be him?" diulang-ulang seperti mantra sekaligus doa. Ini bukan pertanyaan retorika yang percaya diri. Ini pertanyaan yang penuh keraguan dan rasa tidak aman (insecurity). Si "aku" tidak menuntut, "Aku harus jadi dia!". Ia malah bertanya dengan rendah hati, "Bisakah aku menjadi dia?", seolah-olah menjadi orang yang dicintai oleh si perempuan adalah sebuah privilege yang sulit diraih.

Frasa "who treats you right" juga menarik. Ini mengindikasikan bahwa mungkin, dalam pandangan si "aku", sang pacar sekarang tidak memperlakukan si perempuan dengan baik. Atau, bisa juga ini cuma pembenaran dari si "aku" untuk meyakinkan diri sendiri bahwa ia bisa lebih baik. Ia ingin menjadi solusi, menjadi pelindung, menjadi sumber kebahagiaan yang ia rasa belum didapatkan oleh perempuan itu.

Verse 2 & Bridge: Fantasi dan Penerimaan yang Pahit

Di verse berikutnya, imajinasi si "aku" semakin liar. Ia membayangkan hal-hal sederhana seperti menciumnya, membuatnya sarapan, atau sekadar melihatnya tersenyum. Ini adalah fantasi yang sangat manusiawi ketika kita menyukai seseorang. Kita membayangkan versi terbaik dari hubungan itu di kepala kita.

Tapi, di bridge, ada sentuhan realita yang lebih pahit: "I know that he's not perfect / But neither am I". Kalimat ini adalah puncak dari kematangan emosi dalam lagu. Si "aku" akhirnya mengakui bahwa saingannya (sang pacar) juga manusia biasa yang punya kekurangan. Dan yang lebih penting, ia juga mengakui bahwa dirinya sendiri pun tidak sempurna. Ini adalah momen penerimaan yang jarang ada di lagu-lagu cinta yang biasanya hanya memuja-muja atau menyalahkan. Ia tidak menganggap dirinya sebagai pahlawan, tapi sebagai manusia yang juga punya cela.

Kenapa "Can I Be Him" Begitu Relate? Psikologi di Balik Keterhubungan Kita

Lagu ini viral dan terus didengarkan karena menyentuh psikologi dasar manusia dalam hubungan asmara.

  • Rasa Tidak Aman (Insecurity) yang Universal: Hampir semua orang pernah merasa "tidak cukup baik". Lagu ini menjadikan perasaan itu sebagai protagonis. Kita ikut merasakan keraguan si "aku", dan itu membuat kita merasa tidak sendirian.
  • Cinta yang Tak Terucap (Unrequited Love): Banyak orang pernah mencintai diam-diam, mengagumi dari jauh, atau merasa bahwa "timing"-nya tidak pernah tepat. Lagu ini adalah anthem bagi perasaan-perasaan yang tertahan itu.
  • Keberanian untuk Berandai-andai: Pertanyaan "what if" atau "bagaimana jika" adalah permainan pikiran yang sering kita lakukan. "Can I Be Him" adalah versi musikal dari pertanyaan itu. Ia memberi ruang aman untuk berfantasi, meski akhirnya harus kembali ke realita.
  • Vulnerability yang Menawan: Di era di mana semua orang berusaha terlihat kuat dan percaya diri di media sosial, lagu ini justru merayakan kerapuhan (vulnerability). Kejujuran James Arthur dalam menyampaikan liriknya terasa autentik dan tidak dibuat-buat.

Bukan Cuma untuk yang "Galau": Interpretasi Lain dari Lagu Ini

Meski konteks asmara paling menonjol, makna lagu "Can I Be Him" bisa diperluas. Bisa jadi lagu ini juga berbicara tentang:

  1. Perjuangan Diri Sendiri: "Him" bisa diartikan sebagai versi terbaik dari diri kita sendiri. Pertanyaan "Can I be him?" bisa berarti, "Bisakah aku menjadi versi diriku yang lebih baik, yang lebih disiplin, yang lebih sukses?" Lagu ini menjadi refleksi tentang perjalanan self-improvement.
  2. Keinginan untuk Diakui: Dalam konteks persaingan karier atau kehidupan sosial, kita sering ingin menjadi "dia" yang dipandang, dihargai, atau dikagumi. Lagu ini mewakili suara hati orang yang merasa invisible dan ingin diakui eksistensinya.

Bagaimana Musik Memperkuat Makna Lirik?

Produksi musik "Can I Be Him" sangat mendukung cerita. Penggunaan gitar akustik yang dominan menciptakan suasana intim dan personal, seperti sedang duduk berdua di kamar. Aransemen string (biola, cello) yang masuk di bagian chorus dan bridge menambah dimensi dramatis dan emosional, seiring meluapnya perasaan si "aku". Vokal James Arthur yang serak, berat, dan penuh dynamics (dari bisikan hingga teriakan hati) adalah alat yang sempurna untuk menyampaikan gejolak batin. Desahan dan vibrato di akhir frase tertentu terasa seperti isakan yang ditahan. Semua elemen musik ini bekerja sama untuk membuat kita bukan cuma mendengar lagu, tapi merasakannya.

Dampak dan Warisan: Lagu yang Menjadi Tempat Berbagi Cerita

Lihat saja kolom komentar di video musik "Can I Be Him" di YouTube. Ribuan orang dari berbagai belahan dunia berbagi cerita pribadi mereka. Ada yang menuliskan inisial nama, ada yang bercerita tentang mantan, tentang gebetan yang sudah menikah, atau tentang perasaan mereka yang tak pernah sampai. Lagu ini telah menjadi semacam ruang terapi komunitas. Orang merasa didengarkan dan dipahami lewat lagu ini. Ini membuktikan bahwa kekuatan sebuah lagu tidak selalu terletak pada beat yang catchy, tapi pada kemampuannya untuk menjadi cermin bagi perasaan pendengarnya.

James Arthur, melalui "Can I Be Him", berhasil menangkap esensi dari sebuah emosi manusia yang kompleks dan menjadikannya sesuatu yang indah untuk didengar, meski isinya pedih. Lagu ini mengajarkan bahwa tidak apa-apa untuk merasa tidak aman, tidak apa-apa untuk bertanya, dan tidak apa-apa untuk mengakui bahwa kita pun menginginkan sesuatu—atau seseorang—yang sepertinya di luar jangkauan.

Jadi, Apa Jawaban dari Pertanyaan "Can I Be Him"?

Lagu ini sengaja tidak memberikan jawaban yang jelas. Itulah kecerdasannya. Ia membiarkan pertanyaan itu menggantung, sama seperti perasaan tak pasti yang sering kita alami dalam hidup. Mungkin jawabannya ada pada si perempuan dalam lagu. Mungkin jawabannya adalah "tidak". Atau mungkin, seiring waktu, si "aku" akan menyadari bahwa pertanyaan yang lebih penting bukanlah "Can I be him?" tapi "Can I be me? And is that enough?".

Pada akhirnya, "Can I Be Him" lebih dari sekadar lagu. Ia adalah sebuah pengalaman emosional. Sebuah pengingat bahwa dalam cinta, terkadang perasaan yang paling menyakitkan dan rumit justru melahirkan keindahan yang paling tulus. Dan bagi kita yang mendengarkannya, lagu ini menjadi bukti bahwa kata-kata untuk perasaan yang sulit diungkapkan itu memang ada—dan James Arthur telah menemukannya untuk kita.